Secercah Harapan Untuk Indonesia Bebas Korupsi

1. Pesan dari Sang Bapak

Berbicara tentag melawan korupsi, artinya Saya harus kembali keingatan Saya dimalam itu. Di suatu malam dimana harapanku terkubur untuk kesekiankalinya. Harapan yang sekaligus menjadi beban selama ini.

Sebagai putra sulung keluarga petani, harapan keluarga agar Saya dapat menjadi Pegawai Negeri Sipil sangatlah besar. Di desa kami, status PNS masih menjadi primadona masyarakat. Apalagi bagi seseorang yang telah lulus pendidikan Sarjana. Mayoritas masyarakat masih menganggap ‘Jika Sarjana Ya Harus Jadi Pegawai Negeri’. Beban itulah yang selama ini Saya rasakan. Sebuah beban yang membuat Saya harus berusaha ekstra untuk selalu mengikuti tes penerimaan pegawai negeri sipil.

Di malam itu, masih teringat jelas dibenak Saya ketika hasil tes CPNS menunjukan bahwa Saya tidak lolos. Hasil yang mengecewakan setelah penantian selama tiga puluh hari dari hari terakhir ujian berlangsung. Hasil yang membuat harapanku terkubur untuk kesekiankalinya.

Namun kemudian, dari arah dapur terdengar suara yang sedikit menenagkan perasaan saya.
“Wes, ngak usah sedih le.. Kalo belum waktunya ya usaha lagi” ujar Ibuku sambil membawa secangkir kopi untuk Bapak.
“Yowes.. yang sabar.” Kata Bapak yang ketika itu duduk di kursi tak jauh dari tempatku duduk.
“yang penting kan kamu sudah berusaha, masalah hasil yang menentukan itu yang diatas. Kewajiban kita hanya berusaha.”

Bapak adalah orang yang keras dalam mendidik anak-anaknya namun juga orang yang paling sayang kepada anak-anaknya. Bapak dulu sewaktu masih bujang pernah bekerja sebagai mandor di kehutanan. Namun ketika menikah dengan Ibu, Bapak memutuskan keluar dari tempatnya bekerja. Bapak tidak pernah menjelaskan alasannya kenapa dia keluar dari pekerjaannya itu. Bapak kemudian menjadi petani yang menggarap sebagian sawah peninggalan sang kakek.

Di malam itu, Bapak juga menjelaskan kepada Saya tentang itikad baik dalam bekerja. Bapak berpesan kepada Saya agar jangan sekali-kali korupsi kalau suatu saat Saya menjadi orang yang mempunyai kedudukan.

Kata Bapak, “korupsi itu kutukan. Kalo kamu gak dapat kutukannya, keluarga dan keturunan kamu yang akan menanggungnya.”
“Dulu Bapak punya teman satu angkatan yang sama-sama bekerja sebagai mandor.”
“Namanya Sujono. Bapak tau kalau dia korupsi.”
“Hartanya sudah ngak karuan.”
“Mobilnya empat, rumahnya bagus dan pekarangannya pun luas.”
“Di zaman itu orang yang mempunyai motor saja sudah dianggap mampu, apalagi mobil yang banyak.”
“Tapi Allah maha adil le.. Kalo kita menanam kebaikan pasti tumbuhnya kebaikan, tapi kalo kejahatan yang kita tanam maka petaka yang kita tuai.”
“Sujono teman Bapak dua tahun lalu meninggal karena sakit. Hartanya habis untuk biaya pengobatan. Istrinya lari ngak tau entah dimana sekarang. Rumah dan pekarangannya dijual hanya 80juta oleh istrinya. Terlebih anak-anaknya sekarang terlantar.”
“Untung bibimu baik hati, anak-anak Sujono sekarang dirawat oleh bibimu itu.”
“Itulah yang Bapak maksut korupsi itu kutukan[4].

2. Data perkembangan korupsi
Sekarang kita hidup di zaman yang serba semrawut. Zaman dimana korupsi sudah mendarah daging dikehidupan bermasyarakat. Zaman dimana penegak keadilanpun juga ikut korupsi. Zaman dimana kasus korupsi lebih banyak dibandingkan dengan prestasi bangsa.

Data mencatat bahwa kasus korupsi yang ditangani oleh Kepolisian pada tahun 2011 mencapai 1.323 perkara. Sedangkan pada 2010 lalu, polisi hanya menangani 585 perkara. Dari angka itu, jumlah kasus yang diselesaikan pada 2011 sebanyak 755 kasus. Jumlah kerugian negara akibat tindak pidana juga meningkat 258,39 persen menjadi Rp. 2,007 triliun ditahun 2011, sedangkan pada tahun sebelumnya, nilai kerugian hanya sekitar Rp 560,348 miliar [1].

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Pada tahun 2012 ini, hingga bulan September polisi telah menangani sebanyak 885 kasus. Besarnya kerugian yang dialami Negara akibar korupsi ini mencapai Rp 1,67 triliun [2].

Jumlah kerugian yang sungguh luar biasa bagi Negara kita. Jika korupsi terus berlanjut, mau jadi apa Negara kita? Negara yang kita cintai dimana ‘Ari-Ari’ sebagai bagian tubuh kita dikubur ditanah ini.

3. Harapanku takan terkubur
Apakah masih ada harapan untuk Indonesia bebas korupsi? Dulu, Saya masih bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut jika ditanya demikian. Namu Saya percaya bahwa diluar sana masih ada orang yang baik, orang yang mau berkata tidak untuk korupsi, orang yang menjaga keluarganya dari harta korupsi, orang yang mengajarkan kepada keturunannya untuk tidak mengambil harta korupsi.

Keyakinan Saya tentang masih adanya orang baik ternyata tidak sia-sia. Saat ini masih ada sekelompok orang yang menyatakan perang terhadap korupsi. Siapa lagi kalau bukan KPK, TII, dan beberapa organisasi anti korupsi di Indonesia.

Sebut saja KPK, sejak didirikannya pada tahun 2003 KPK telah banyak membawa perubahan yang sangat besar dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Dalam kurun waktu 2004 sampai dengan Mei 2012, KPK telah berhasil membawa para koruptor kelas kakap ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan semuanya diputus bersalah. Mereka adalah 50 anggota DPR, 6 Menteri/Pejabat Setingkat Menteri, 8 Gubernur, 1 Gubernur Bank Indonesia, 5 Wakil Gubernur, 29 Walikota dan Bupati, 7 Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU),  Komisi Yudisial dan Pimpinan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). 4 Hakim, 3 Jaksa di Kejaksaan Agung, 4 Duta Besar dan 4 Konsulat Jenderal (termasuk Mantan Kapolri), Jaksa senior, Penyidik KPK, seratus lebih pejabat pemerintah eselon I &II (Direktur Umum, Sekretaris Jenderal, Deputi, Direktur, dll), 85 CEO, pemimpin perusahaan milik negara (BUMN) dan pihak swasta yang terlibat dalam korupsi [3].

Lalu, apakah masih ada harapan untuk Indonesia bebsa korupsi? Jika saat ini Saya ditanya demikian maka Saya akan menjawab dengan tegas “Masih Ada Harapan, Dan Harapanku Takan Terkubur”.

4. Tindakanku tak seberapa tapi dampaknya nyata
Kita tahu bahwa tindakan besar diawali dari tindakan-tindakan kecil. Begitu juga dengan Korupsi, Korupsi timbul akibat tindakan-tindakan kecil yang menyimpang dan terakumulasi menjadi sebuah kebiasaan, terlebih menjadi sebuah mental korupsi.

Lalu tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga keluarga dan keturunan kita terbebas dari harta korupsi?

Menurut saya, tindakan kecil untuk memutus mata rantai korupsi sekaligus meyebarkan dan membangun budaya baru antikorupsi dapat dilakukan melalui pendidikan keluarga. Seperti Bapak yang mengajarkan Saya akan bahayanya kosupsi. Karena korupsi bisa menjadi kutukan untuk keluarga dan keturunan kita.

Terus, pendidikan keluarga seperti apa yang dimaksut?
Yang Saya maksut melawan korupsi dengan pendidikan keluarga adalah dengan mengajarkan dan memberikan contoh tentang kebaikan. Salah satunya adalah kebaikan untuk tidak berbohong, kebaikan untuk tepat waktu, kebaikan untuk selalu hemat dan kebaikan untuk selalu bersyukur.

Tindakan kecil yang kita anggap sesuatu yang biasa dan hampir setiap orang pernah melakukannya namun dampaknya sangat besar terhadap pembentukan karakter bangsa adalah berbohong. Berbohong merupakan sumber korupsi pada diri seseorang. Jika sifat pembohong tidak dapat dikendalikan pada diri seseorang maka dia akan menjadi penghianat, terlebih penghianat bangsa.

Tepat waktu mungkin hal yang sering kita pelajari waktu menempuh pendidikan. Kita sering jengkel apabila dihukum berdiri dilapangan karena terlambat masuk sekolah. Namun jika kita cermati, sebenarnya hukuman itu adalah hal yang mendidik kita agar tepat waktu. Agar suatu saat kita terbiasa tepat waktu dan tidak terbiasa dengan korupsi waktu.

Pendidikan keluarga tentang hidup hemat dan bersukur sangatlah penting. Jika kita cermati, hampir semua terpidana tindakan korupsi adalah orang yang kaya, orang yang mempunyai kedudukan dan pendapatan yang melimpah. Lalu kenapa mereka tetap korupsi? Mungkin bisa jadi karena system, atau mungkin bisa jadi karena mereka tidak bersyukur.

Lalu, apakah harapan itu masih ada? 
Harapan untuk Indonesia bebas korupsi!
thumbnail
Title: Secercah Harapan Untuk Indonesia Bebas Korupsi
Rating: 4.9 - 991 user reviews.
Reviewed by: Rendik Setiawan

Related Template cerita, pendidikan :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Kata Kata Mutiara Cinta: Secercah Harapan Untuk Indonesia Bebas Korupsi.