Surat Buat Emak Di Negeri Orang

Emak ku tersayang,

Mak, masih ingatkah emak sama desa kita? Desa yang selalu sepi ketika jam dinding menunjukan angka 8 malam. Desa yang jarak antar rumah tetangganya saling berjauhan.

Mak, masih ingatkah emak sama gubuk kita? Gubuk yang terletak di ujung batas terluar desa. Gubuk yang ketika jam 8 malam ikut menutup pintunya rapat-rapat.

Dulu ketika malam tiba, kita selalu menyalakan lampu ublik untuk menerangi isi gubuk. Si bungsu selalu menangis ketika api ublik mati tertiup angin. Dan bapak selalu membawa korek api di saku celananya dimanapun dia berada.

Dulu ketika malam tiba, aku selalu belajar di bawah lampu ublik. Mataku selalu pedih ketika harus membaca huruf yang kecil. Mungkin itu sebabnya saat ini aku harus pakai kaca mata mak..

Dulu ketika malam tiba, desa kita bermetamorfora menjadi desa yang angker dan suram. Jalan-jalan menjadi sepi layaknya ditengah kuburan. Dan yang terpenting, aku tak rela jika raut muka emak harus menjadi samar-samar di pelupuk mataku.

Malam selalu bertemu dengan siang mak..

Begitu pula dengan desa kita saat ini. Kita saat ini tidak perlu lagi menyalakan lampu ublik. Kita saat ini tidak perlu lagi menutup pintu rapat-rapat ketika jam 8 malam. Dan kita saat ini tidak perlu lagi takut menyusuri jalan desa ketika malam.

Aku sangat bersyukur mak, karena saat ini kita diberi kemudahan oleh Allah. Saat ini listrik sudah masuk desa. Meteran listrik PLN sudah menancap di masing-masing dinding rumah. Dan saat ini jalan-jalan desa sudah menjadi terang ketika malam.

Hal ini karena PLN sudah menjadi perusahaan yang dewasa dan professional. Sumber daya PLN saat ini sudah sangat mumpuni untuk menjangkau desa-desa terpencil seperti desa kita. Dan yang paling penting mak.. PLN saat ini semakin mudah dan terbuka. Mudah aksesnya dan terbuka pelaporannya.

Aku tau semua itu karena Pak Kades yang cerita. Kemarin saat rumah Bude Lastri mau kebakaran karena konsleting listrik, Pak Kades yang membantu menelphonkan layanan PLN.

Kata Pak Kades, “PLN saat ini semakin mudah di hubungi dan semakin sigap. Tinggal calling 123, mas ato mbak service center langsung ngangkat. Pak service PLN nya juga cepet banget datang ke lokasi.”

Itulah yang kata Pak Kades dibilang, “PLN semakin Ber-Integritas”.

Bukan hanya itu mak, saat ini kalo aku mau bayar listrik. Aku selalu ngecek dulu di internet berapa tagihan bulanannya. Aku selalu ngecek di http://www.pln.co.id/info-rekening/tagihan.php. Jadi kalo bawa uang biar pas, kan malu mak kalo bayar listrik tau-tau uangnya kurang.

Nah, yang satu ini disebut “PLN semakin Transparan” oleh Pak Kades. Katanya cara ini bisa mengurangi kecurangan dan pungutan liar oleh oknum PLN.

Suatu ketika Gubuk kita juga pernah mengalami gangguan jaringan listrik mak.. Aku langsung telepon ke Costumer Service PLN. Kata mbak CSnya, kita disuruh nunggu kedatangan petugas PLN ke gubuk kita. Mbak CSnya berpesan agar tidak melakukan perbaikan sendiri agar tidak terjadi konsleting yang lebih parah. Mbak CSnya juga berpesan agar tidak memberikan uang tips atau apapun karena itu semua sudah menjadi tanggung jawab PLN.

Dan ternyata bener mak. Waktu pak petugas PLN memperbaiki listrik di rumah kita, pak PLN gak mau diberi uang sama Bapak. Padahal niat Bapak ikhlas buat beli rokok pak PLN, tapi pak PLN tetap menolak. Ya terpaksa sama Kak Retno cuma di suguhi secangkir kopi dan ubi goreng.

Partisipasi dan komitmen dari para pegawai PLN untuk menjalankan dan mendukung PLN bebas dari korupsi inilah yang disebut “Partisipasi PLN Bersih”oleh Pak Kades. Kata Pak Kades, “Saat ini semua petugas dan stakeholders ramai-ramai menjalankan dan mendukung gerakan PLN bersih dari korupsi”.

“Selain itu, saat ini akuntabilitasnya PLN juga semakin jelas, PLN saat ini semakin transparan dan semakin responsif. Buktinya Cak Yanto, petugas lapangan itu selalu keliling desa untuk kontrol meteran PLN setiap tanggal 5 sampai 15 tiap bulannya”, tambah Pak Kades.

Awalnya aku gak terlalu paham mak, tapi setelah dapat wejangan dari Pak Kades, aku semakin paham. Kalo aku boleh bilang, itulah yang menurutku dapat disebut “Semangat PLN Bersih Dari Suap”.

Berlebihan atau tidak, aku gak tau mak.. Tapi yang jelas itulah yang aku rasakan.

Mak, kapan emak pulang??.. Aku, Bapak, Kak Retno, dan Dek Dian sangat rindu sama emak.. Bukankah desa kita sudah terang seterang cinta emak dan keluarga di desa.. Mak, ayo pulang..

Salam sayang dari keluarga di desa.

Awan

NB: Untuk emak, aku kirimkan foto gubuk kita yang semakin terang saat ini.
Foto gubuk kita mak..
Semangat PLN Bersih SuapSemangat PLN Bersih Suap
Semangat PLN Bersih SuapSemangat PLN Bersih Suap
thumbnail
Title: Surat Buat Emak Di Negeri Orang
Rating: 4.9 - 991 user reviews.
Reviewed by: Rendik Setiawan

Related Template Blog Competition :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Kata Kata Mutiara Cinta: Surat Buat Emak Di Negeri Orang.